Religi  

Mencintai Masih Berharap Cinta

Lagu Ciptaan Bupati Sumenep
Lagu Ciptaan Bupati Sumenep: Mencintai Tanpa Dicintai lagi viral. Netizen penuh interpretasi (tangkapan video lagu)

SEBELUMNYA saya ngeh mencari makna judul lagu ciptaan Bupati Sumenep Achmad Fauzi yang lagi viral:
Mencintai Berharap Tak Dicintai atau Mencintai Tanpa Dicintai. 

Saya sempat sulit mencari refrensi kitab-kitab tasawuf yang membahas cinta tanpa berharap cinta.

Kenapa harus kitab-kitab tasawuf? Karena dalam kitab-kitab fikih masih berkutat soal halal haram. Pahala dan siksa. Syurga dan neraka.

Saya gak ngerti baca kitab-kitab klasik. Setidaknya saya bisa tanya isi kitab-kitab itu ke seseorang. Bukan berarti saya ngerti, lho.

Dari kitab-kitab tasawuf: saya mengerti bab cinta. Ya..cinta Ilahi. Pencetusnya: Rabiah al-Adawiyah.

Sepanjang nafas Rabiah hanya berharap cinta Allah. Beliau tak berharap syurga. Dan tak takut neraka.

Yang diharap Rabiah adalah bermesraan dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Akhirnya saya sadar. Makna Mencintai Berharap Tak Dicintai itu tergolong maqam puncak. Tingkat ketakwaan manusia yang begitu sempurna.

Tak ada lagi harapan dalam diri si hamba kecuali menyatu dengan sang Khaliq.

Meminjam bahasa Filsuf kelahiran Pakistan, Muhammad Iqbal. Itulah Insan Kamil. Yaitu: manusia yang mencintai Allah tanpa berharap cinta Ilahi.

Memang dalam bahasa Mencintai Berharap Tak Dicintai itu tingkatan di atas cinta. Yaitu, melebur. Ittihad.

Dalam kitab-kitab tasawuf. Bab cinta. al-Hubb. Masih debatable.

Imam al-Ghazali dan sufi lainnya masih berbeda pandangan soal rasa cinta Ilahi.

Al-Ghazali berpikir: cinta kepada Allah harus melalui dengan mengenal Allah terlebih dahulu.

Artinya: sebelum memiliki cinta Ilahi yang menggebu-gebu. Si hamba perlu bermakrifatullah.

Dari buah makrifatullah itu, lahir rasa cinta yang menggebu untuk selalu bermesraan dengan kekasih yang dicintai.

Sufi lain berpandangan. Bagaimana bisa bermakrifatullah. Jika dalam hati masih belum ada benih cinta kepada Allah.

Setidaknya. al-Hubb. Cinta Ilahi merupakan buah dari mengenal Allah SWT. Baik mengenal sifat-sifatNya. Mengenal ciptaan-Nya.

Dan tingkat cinta ilahi tergantung kadar ketakwaan si hamba.

Barangkali itu yang membedakan sudut pandang cinta Ilahi. Awal lahirnya.

Setidaknya. Kaum sufi bersepakat. Cinta Ilahi itu melahirkan rindu.

Mustahil seorang pecinta tak merasa rindu bersua dengan yang dicinta.

Bisa jadi itu cinta gombal. Lazimnya cinta manusia kepada sesama.

Sebagaimana Ibnu Athaillah meyakini: cinta ilahi itu hadir karena Allah menumbuhkan rasa cinta kepada hati si hamba.

Ibnu Athaillah dalam kitab al-Hikam melukis: hubungan cinta Allah dengan si hamba ibarat magnet dan paku.

Secara dzahir. Paku yang berjalan mendekat ke arah magnet. Namun, secara substansi, kata Ibnu Athaillah: karena daya tarik magnet. Paku itu berjalan menuju arah magnet.

Buah dari makrifatullah itulah cinta. Allah menancapkan Nur Ilahi dalam diri hamba yang dikehendaki.

Pecinta berharap dicintai. Berharap bermesaraan dengan yang dicintai.

Ada rindu menggebu untuk bermesraan. Jika mendengar nama yang dicintai. Syahdu mendengarnya.

Karena sering bermesraan dalam balutan cinta dan rindu akhirnya bersatu dengan yang dicintai. Sebagaimana digambarkan Abu Yazid Al-Busthami.

Barangkali itu saya menafsiri makna ittihad yang dicetuskan Abu Yazid Al-Busthami.

Abu Yazid menulis dua etape sebelum si hamba ber-ittihad. Yaitu melalui fase al-fana dan al-baqa.

Seorang hamba akan mengalami fana (lenyap) secara baqa (terus menurus) karena ia biasa mengosongkan selain yang dicinta.

Hampir setiap nafasnya: bermesraan dengan yang dicintai. Sehingga jiwanya kosong terserap.

Dalam bab cinta yang tak berharap dicintai itu sudah tergolong tingkat ketakwaan sempurna.

Kenapa sempurna? Karena hamba itu sudah tak lagi proses mencintai. Bukan di maqam cinta. Tapi sudah di tingkatan menyatu.

Tak ada keinginan si hamba kecuali bersama dengan yang dicintai.

Tapi saya perhatikan bait-bait dalam lagu Mencintai Berharap Tak Dicintai atau Mencintai Tanpa Dicintai masih belum mewakili makna ittihad.

Emang luput melihat lagu itu dari perspektif sufisme.

Karena pencipta lagu itu seorang politisi. Yang kini menjabat Bupati Sumenep.

Coba perhatikan bait-bait lagu itu:

Tak Pernah Terbayangkan Rasa ini
Mencintai Tanpa Di cintai
Walau Berat rasa ini sayang kepadamu
Akhirnya kupasrahan Rasa ini
Tentang Rindu Tanpa Rasa Rindu
Tapi Rasa ini selalu ada untukmu

Reff

Oh Tuhan Tolong
Jaga dia untuk aku
Dalam rinduku selalu

Kumencintai setulus hati kepadanya
Sayangi dia selamanya

Akhirnya kupasrahan Rasa ini
Tentang Rindu Tanpa Rasa Rindu
Tapi Rasa ini selalu ada untukmu

Bisa jadi: Bupati Fauzi ingin menyampaikan kepada para pecinta (loyalisnya) agar dalam mendukung dirinya jangan berharap apa-apa.

Kecuali menyatu dalam satu barisan.
Merdeka.

Atau Anda yang lebih ngerti makna judul lagu ciptaan Bupati Fauzi: Mencintai Berharap Tak Dicintai

Sumenep 31 Juli 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.