Lora Fauzi

Bupati Sumenep
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi

SAYA harus menulis Lora Fauzi secara jelas. Tanpa perlu ditutup-tutupi.

Apalagi video Bupati Achmad Fauzi saat jadi Imam Shalat Maghrib sudah viral.

Netizen riuh. Ada yang merespon. “Inilah bacaan dari seorang lora,”.

Sebagian menilai masih ada beberapa bacaan Fauzi yang perlu diperbaiki.

Sejak ditulis Lora Fauzi oleh media. Banyak yang nanya: kok ditulis Lora. Fauzi bukan putra kiai. Fauzi hanya seorang Bupati Sumenep. Titik. Dan sebagainya.

Begitu ocehan netizen.

Yang bikin heboh komentar dari
pengacara kontroversi Sumenep, Kurniadi, SH. Dia membuat komentar di sejumlah Grup-Grup WhatsApp.

Inti dari komentar Kurniada adalah mempersoalkan penyematan Lora pada nama Achmad Fauzi.

Beberapa hari lalu. Kurniadi yang mendeklarasikan si Raja Hantu mengomentari judul berita salah satu media online di salah satu Grup WhatsApp.

Judul berita itu bertulis: Bupati Ra Fauzi Puji Kades Kebunagung.

Ternyata, penyematan Ra (Lora) kepada Bupati Sumenep Achmad Fauzi dinilai Kurniadi tak pantas. Bahkan media berinisial jf disebut Kurniadi tengah melakukan aksi penjilatan atas Bupati “T** K**ing”;

“Mosok hanya dg harga berita iklan (Adv) Rp. 500 ribu, jf melekatkan status mulia kepada Bupati “T** K**ing???”,” tulis Kurniadi.

Lanjut Kurniadi: Ingat, “lora” itu dalam stratifikasi sosial menempati status tinggi dan mulia.

Jadi, sebutan “Lora”, tidak pantas dilekatkan kepada Bupati T** K**ing bernama Ach. Fauzi., SH., MH;

“Mari kita kompak mengingatkan kaum jurnalis, termasuk jf, untuk tdk jadi penjilat kepada Bupati T** K**ing,” sambungan tulisan Kurniadi.

Komen-komen Kurniadi menyulut emosi loyalis Bupati Fauzi. Mereka membalas komentar Kurniadi di Grup-Grup WhatsApp.

Ada yang tak terima hingga Kurniadi
dilaporkan pencemaran nama baik.

Yang melaporkan Ketua Karang Taruna Sumenep, Nurrahmat ke Polres Sumenep.

Alasan Nurrahmat sederhana. Bupati Sumenep, Achmad Fauzi sebagai pembina Karangtaruna dihina nama baiknya melalui pernyataan Kurniadi di Grup-Grup WhatsApp.

Nurrahmat mengaku tak terima jika pembina organisasi yang ia pimpin diolok-olok secara vulgar melalui tulisan.

Sampai di sini, saya sudahi polemik Lora Fauzi di Grup-Grup WhatsApp. Termasuk laporan Karangtaruna ke Polres Sumenep.

Saya coba menulis; bagaimana awal mula penyematan Lora Fauzi. Siapa sebenarnya Acmad Fauzi kok disebut Lora.

Seperti banyak yang ngerti: penyematan Lora Fauzi berawal dari panggilan Ketum PBNU Gus Yahya saat memberi sambutan pembuka pada acara Simposium Peradaban Dunia di Pendopo Keraton Sumenep bulan Maret lalu.

“Tak lupa yang juga saya hormati Bupati Sumenep, Ra Achmad Fauzi,” kata Gus Yahya disambut tepuk tangan dan tawa gembira seluruh undangan.

Gus Yahya dalam acara Simposium Peradaban itu sebagai keynote speech, yang membahas “NU di tengah Peradaban Global Multi Polar”.

Pada kesempatan itu, hadir para ulama dan tokoh NU. Seperti, KHR Ahmad Azaim, cucu KHR As’ad Syamsul Arifin, Situbondo. KH. Marzuqi Mustamar (PW NU Jatim), dan KH. D. Zawawi Imron (Budayawan asal Sumenep).

Apakah Gus Yahya menyapa Ra Achmad Fauzi sebagai candaan? Karena publik memahami panggilan ‘Ra’ atau Lora untuk putra kiai.

Benarkah Bupati Fauzi putra seorang kiai?

Saya mencari informasi. Ketemu dengan seseorang yang mengaku kenal dengan Slamet Wongsoyudo, ayah Bupati Fauzi.

M. Jamil mengakui jika Slamet Wongsoyudo seorang aktivis GP Ansor, organisasi pemuda NU. Tapi di rumah Wongsoyudo di Bluto ada langgar yang menjadi tempat ngaji anak-anak kampung.

M. Jamil bercerita: sewaktu kecil dirinya pernah tinggal di Bluto mengikuti ayahnya. Jamil mengaku bertetangga dengan ayah dan kakek Bupati Achmad Fauzi.

“Pak Slamet Wongsoyudo itu guru ngaji. Meneruskan ayahnya. Hanya Pak Slamet berkelana karena jadi PNS,” ucap Jamil memberi keterangan.

Jamil tak kaget mendengar nama Achmad Fauzi dengan panggilan lora. “Memang lora dia. Fauzi anak guru ngaji bernama Pak Slamet Wongsoyudo,” kata Jamil menambah keterangan.

Publik selama ini mengenal Bupati Sumenep Achmad Fauzi sebagai salah satu keponakan MH Said Abdullah (Ketua Banggar DPR RI) dari keluarga etnis Arab di Sumenep.

Sebenarnya, penyematan gelar atau istilah bukan hal baru bagi media.

Saya teringat istilah Kiai Kampung dan Kiai Langitan.

Penyematan istilah baru itu dipopulerkan oleh media setelah Gus Dur menyebut Guru Ngaji dan Kiai Langitan sebagai sosok yang ikhlas dalam mengabdikan hidupnya untuk umat.

Bagi Gus Dur, Kiai Kampung salah satu di antara sosok mulia yang masih bisa diharap menjaga umat dari kemorosotan moral umat Islam.

Mereka tersebar di pelosok-pelosok desa mengajar ilmu agama tanpa pamrih.

Sedangkan Kiai Langitan disebut Gus Dur merupakan para kiai sepuh yang memiliki tingkatan spiritual yang dekat dengan Tuhan. Beliau diakui Gus Dur menjadi oase di tengah kegersangan umat.

Bagi media. Penyematan istilah baru bisa diuji dari sisi news value (nilai berita). Termasuk respon publik.

Dalam konteks penyematan Ra atau Lora bagi Bupati Sumenep Achmad Fauzi. Media merujuk pada pernyataan Ketua Umum PBNU Gus Yahya.

Apakah panggilan Lora Fauzi dari Gus Yahya termasuk bullying atau penghormatan?

Semua kembali ke anda.

Ngenom lu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.