Politik AKD Sumenep

Pilkada Sumenep
Ilustrasi

Donald Trump. Tak pernah berkarir di partai politik. Hanya sebagai anggota Partai Republik pada 2009.

Sepanjang hidupnya. Trump milih konsern di dunia bisnis real estate, olah raga, dan hiburan.

Publik mengenal trump sebagai tokoh kontroversial yang triliuner (mengganti istilah miliarder). Dengan jaringan usahanya di mana-mana.

Entah kenapa. Jelang usia 70 tahun.

Tiba-tiba Trump mendaftar sebagai calon presiden AS pada pemilu 2016.

Tak ada yang dibanggakan dari figur Trump. Secara mental, moral, dan intelektual disebut banyak media tak layak menjadi Presiden Amerika Serikat.

Di luar prediksi. Trump menang. Mengalahkan kandidat Partai Demokrat, Hillary Clinton. Istri mantan Presiden AS, Bill Clinton.

Trump dilantik sebagai Presiden AS hingga 2020. Kemenangan Trump menuai pro dan kontra.

Begitulah Amerika.

Sebuah negara yang mengedepankan nilai-nilai demokrasi. Dan tak pernah serius mengurus hal-hal berbau ideologis.

Madzhab politiknya liberalisme. Orang-orangya, pragmatis.

Kata pemikir Amerika, William James dan John Dewey. Pragmatisme yang menyebabkan Amerika bisa survive dan disegani dunia.

Amerika mencipta progresi dengan semangat pragmatisme. Mengabaikan nilai-nilai agama dan ideologi.

Maklum, negara Amerika Serikat dibentuk oleh kaum urban. Sebuah kaum yang identik dengan persoalan bagaimana bisa bertahan hidup.

Kehidupan pragmatisme tentu tak lepas dari pemikiran para The Founding Fathers Amerika.

Bagaimana George Wythe, Patrick Henry, Benjamin Franklin, ataupun Thomas Jefferson mewarnai madzhab negara Amerika.

Mereka beranggapan agama dan negara tak seksi diperbincangkan di dalam ranah negara Amerika.

Pragmatisme dan liberalisme telah menjadi kehidupan di Amerika.

Benih-benih itu diramal akan menjalar ke negara-negara lain di dunia. Yang meramal, intelektual Amerika berdarah Jepang. Namanya Francis Fukuyama.

Fukuyama menyebut: era pasca ideologi akan mengubur ideologi-ideologi bagi masyarakat dunia.

Para civil society akan enggan mempertentangkan ideologi-ideologi besar. Tak ada lagi yang mempersoalkan nilai-nilai dalam sendi kehidupan negara.

Yang akan mengemuka: liberalisme dan pragmatisme.

Tapi itu hanya ramalan Fukuyama.

Apakah Pilkada Sumenep 2024, masuk bagian elemen yang diramal Fukuyama?

Entahlah.

Saya melihat Sumenep. Tentu beda dengan Amerika. Dan negara-negara besar di dunia.

Setidaknya. Politik AKD Sumenep perlu dicermati sebagai sebuah fenomena.

Ya. Sebuah fenomena yang penuh makna.

Meminjam pandangan filsafat fenomologi. Gejala perubahan politik Sumenep. Dari kejadian-kejadian setiap pemilihan legislatif dan Pilkada Sumenep bisa ditarik pada sebuah kesimpulan sementara.

Wajar. Jika pernyataan Ketua AKD Sumenep, Miskun Legiyono yang akan mengusung perwakilan AKD di Pilkada Sumenep 2024 menuai pro kontra.

Ada juga yang nyinyir.

Padahal, Kades Yon-panggilan akrabnya- sebatas menyampaikan aspirasi para kades. Agar di Pilkada Sumenep 2024 ada perwakilan kades. Entah sebagai calon bupati atau calon wabup.

Dari aspirasi itu, lanjut Kades Yon-muncul beberapa nama Kades agar diikutsertakan dalam Pilkada Sumenep 2024.

Memang tak menyebut satu calon. “Ada beberapa nama yang diusulkan para kades,” sebut Kades Yon.

Politik AKD Sumenep ini yang
berkehendak untuk ikut berkontestasi di Pilkada 2024 tergolong anyar.

Selama ini, AKD tak lebih seperti paguyuban. Bergerak jika ada keperluan.

Ya..macam-macam keperluan itu. Tak perlu saya sebut di sini.

Anda yang lebih ngerti.

Saya juga berpikir: apa yang ada di benak para Kepala Desa di Sumenep.

Tumben berpikir lebih besar. Berpikir kondisi Kabupaten. Bukan lagi berpikir level desa.

Atau melihat Kabupaten lain. Ada utusan Kades di level pemerintah kabupaten. Seperti Wakil Bupati Sampang, Abdullah Hidayat.

Pada usia 37 tahun. Mantan Kepala Desa Bringin Nunggal, Kecamatan Torjun itu duduk di kursi Wabup Sampang.

Abdullah Hidayat sebagai Ketua AKD (Asosiasi Kepala Desa) di Kabupaten Sampang.

Lewat organisasi itu, Abdullah Hidayat terjun ke politik praktis dengan maju di Pilkada Sampang 2018. Dia berpasangan H Idi sebagai Cabup Sampang.

Tak sedikit para mantan Kades berpolitik ke level kabupaten atau provinsi. Juga ada ke level senayan.

Tapi mereka mengadu politik lewat pemilihan legislatif.

Baru segelintir Kades yang berkehendak maju dan duduk di kursi eksekutif lewat Pilkada.

Ada yang bertanya. Keinginan berkontestasi itu serius atau bagian dari manuver AKD?

Atau fenomena Politik AKD Sumenep mengisyaratkan terbukanya madzhab liberalisme dan pragmatisme dalam Pilkada Sumenep 2024?

Wallahu a’lam

Anda mungkin lebih ngerti.

Sumenep 24 Juli 2022.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.